
Bermula dari ketertarikan mengembangkan hobi melukis dengan konsep
Fusion art Batik (penggabungan seni batik), Ekhsan (46) bersama rekan satu tim mulai membuat
classic box, classic paper bag, greeting card, dan produk cetak motif batik lainnya dengan media kertas dan diaplikasikan pada kemasan produk dengan teknik cetak timbul “
thermography hand printing”.
“Dari awalnya hanya hobi ternyata mendapat respon dari kawan-kawan
pelanggan serta pasar yang sangat positif. Berkembanglah menjadi usaha
Batik76 hingga saat ini memiliki 68 outlet tersebar di mall-mall besar
di seluruh Indonesia,” kata Ekhsan.
Dimulai dengan promosi dari mulut ke mulut, dulunya Ekhsan hanya
melakukan aktivitas produksi untuk memenuhi pesanan mengingat modal yang
Ia miliki cukup terbatas yaitu kurang dari Rp 10 juta. Namun melihat
permintaan pasar yang semakin luas, salah satu pelanggan di Kemang
Jakarta Selatan menyarankan Ekhsan untuk memasok ChikMart Kemang yang
ternyata pertumbuhannya sangat baik.
“Modal bertambah akhirnya retail kami kembangkan, masuk di seluruh
toko buku Gramedia, Kinokuniya Bookstore, Alun Alun Indonesia Kreasi,
Sogo dan lain-lain, kini produk kami telah tersebar hingga 68 outlet di
seluruh Indonesia. Sedangkan untuk
direct-selling, kini semakin diminati anak-anak muda dan mahasiswa,” tuturnya.
Tak bisa tinggal diam melihat pertumbuhan pasar yang sangat positif,
Ekhsan mulai menjalankan sistem pemasaran online hingga berkembang
masuk ke pasar asing seperti misalnya
Germany, Japan, dan
Australia.
“Kami ingin menjadikan motif batik berfilosofi (legendaris) terwujud
sebagai soft power NKRI yang semakin dicintai oleh masyarakat modern
Indonesia dan dunia saat ini,” imbuh pengusaha sukses yang satu ini.
Mengajak Generasi Muda Bangga Menggunakan Batik

Dalam
menjalankan bisnis kreasi batik ini, tantangan terbesar bagi Ekhsan
adalah sulitnya mengajak generasi Indonesia untuk lebih kreatif dan
bangga menggunakan serta menikmati kekayaan Indonesia yakni batik
sebagai karya Adiluhung. “Cara mengatasi tantangan ini yaitu dengan
terus berkreasi dan berkarya dengan lebih kreatif untuk menjawab dan
memenuhi permintaan pasar,” ungkap Ekhsan.
Melibatkan kalangan anak muda dalam menjalankan bisnis batiknya,
meliputi tenaga cetak 3 orang, tim desain 2 orang, dan tenaga produksi 3
orang, setiap harinya Ekhsan mampu memenuhi kebutuhan pasar di 68
outlet seluruh Indonesia dan melayani seluruh pemesanan via
online.
Kedepannya Ekhsan berharap bisa memberikan peluang usaha kepada siapa
saja apapun profesinya untuk menggarap pasar yang masih sangat-sangat
luas ini . Minat Hubungi HP/SMS/WA: 0812 83 73564, batik_76@yahoo.co.id www.batik76.com
“Melalui batik, kami pernah diundang pertemuan UNESCO untuk
memperkenalkan budaya batik di New Zeland, Australia. Pada pertemuan
ini, BATIK76 menjadi semakin dikenal dan diminati. Kami pun sempat
sangat sibuk memenuhi permintaan. Bisnis yang menguntungkan ini akhirnya
bisa mengangkat kehidupan kami semakin bernilai dan semakin baik,”
jelas pengusaha yang sering diundang ke luar negeri untuk memperkenalkan
budaya batik Indonesia tersebut.
Kendati sekarang ini persaingan bisnis batik di Indonesia semakin
sesak, namun bagi Ekhsan bisnis adalah pertandingan terbuka. “Saat
pertandingan dimulai berhentilah berteori. Segera lakukan yang terbaik,
tidak ada alasan, tidak ada yang bisa disalahkan. Apabila kalah,
berarti belum melakukan yang terbaik. Segera perbaiki dan ikut
pertandingan berikutnya untuk menjadi yang terbaik atau tidak sama
sekali,” pesan Ekhsan menutup sesi wawancara kami.
Tim Liputan BisnisUKM (http://bisnisukm.com/sukses-menjadikan-motif-batik-sebagai-soft-power-nkri.html) INFO:
www.batik76.com